Oleh: Ali Aminulloh
Mereka mungkin tidak berdiri sebagai komandan upacara, tidak pula berada dalam pasukan pengibar bendera. Namun, ketika 60 ibu anggota KSU Desa Kota Indonesia memasuki Arena Olahraga Palagan Agung dan mulai bergerak dalam irama yang serasi, mereka menghadirkan pesan penting: membangun bangsa bukan hanya tugas mereka yang berdiri di depan, tetapi juga mereka yang selama ini dengan sabar menguatkan keluarga dari belakang.
Penampilan tari kreasi ibu-ibu anggota Koperasi Serba Usaha (KSU) Desa Kota Indonesia menjadi salah satu bagian menarik dalam peringatan Hari Ulang Tahun Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Ma’had Al-Zaytun, Senin, 17 Agustus 2026.
Sebanyak 60 ibu tampil penuh semangat, percaya diri, dan kompak. Mereka merupakan representasi istri sivitas Al-Zaytun—para perempuan yang kesehariannya turut mendampingi suami, mengelola rumah tangga, mendidik anak-anak, membangun kehidupan ekonomi keluarga, dan menjaga keharmonisan komunitas.
Pagi itu, mereka tampil di ruang publik dengan wajah ceria. Gerakan yang serasi, irama yang dinamis, dan semangat yang terpancar dari setiap penampil membuat suasana Palagan Agung semakin semarak. Tepuk tangan para penonton mengiringi penampilan mereka.
Tari kreasi tersebut bukan sekadar hiburan setelah upacara. Di dalamnya tersimpan cerita tentang partisipasi perempuan, kekuatan keluarga, kebersamaan anggota koperasi, dan semangat untuk turut mengisi kemerdekaan.
Dari Rumah Tangga Menuju Ruang Kebangsaan
Selama ini, peran istri sering kali bekerja dalam sunyi. Mereka mengatur kehidupan rumah tangga, mendampingi suami menjalankan pengabdian, mendidik anak-anak, menjaga kesehatan keluarga, dan memastikan kehidupan sehari-hari tetap berjalan dengan baik.
Pekerjaan tersebut jarang terlihat di ruang publik, tetapi sangat menentukan kekuatan sebuah komunitas. Di balik sivitas yang bekerja dan mengabdi di berbagai bidang Al-Zaytun, terdapat keluarga yang memberikan dukungan moral, emosional, dan sosial.
Karena itu, keterlibatan 60 istri sivitas Al-Zaytun dalam tari kreasi tersebut memiliki makna yang lebih dalam. Mereka tidak hanya hadir sebagai penonton. Mereka tampil sebagai pelaku, mengambil bagian dalam perayaan kemerdekaan, dan menunjukkan bahwa perempuan mempunyai ruang penting dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.
Partisipasi mereka menegaskan bahwa pembangunan manusia tidak dapat dilepaskan dari ketahanan keluarga. Keluarga merupakan tempat pendidikan pertama. Di sanalah nilai keimanan, kedisiplinan, kemandirian, kebersamaan, dan kecintaan kepada tanah air mulai ditanamkan.
Para ibu menjadi salah satu pendidik utama dalam proses tersebut. Dari tutur katanya anak mengenal kelembutan. Dari keteguhannya keluarga belajar menghadapi kesulitan. Dari kecermatannya rumah tangga belajar mengelola kebutuhan. Dari keteladanannya tumbuh generasi yang berkarakter.
Ketika para ibu kuat, keluarga menjadi kokoh. Ketika keluarga kokoh, masyarakat akan tangguh. Dari masyarakat yang tangguh itulah bangsa yang maju dapat dibangun.
KSU sebagai Ruang Kebersamaan Perempuan
Keikutsertaan ibu-ibu tersebut juga memperlihatkan bahwa KSU Desa Kota Indonesia tidak hanya menjadi wadah kegiatan ekonomi. Koperasi dapat berkembang menjadi ruang kebersamaan, pembelajaran, kreativitas, kesehatan, dan penguatan hubungan sosial antaranggota.
Semangat koperasi bertumpu pada prinsip dari anggota, oleh anggota, dan untuk anggota. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, gotong royong, kesetaraan, tanggung jawab, dan kemandirian.
Nilai-nilai itu terlihat dalam proses mempersiapkan tari kreasi. Untuk menghasilkan gerakan yang kompak, para peserta harus berlatih bersama. Mereka perlu mengatur waktu di tengah kesibukan rumah tangga, saling menyesuaikan gerakan, menjaga komunikasi, serta membangun kepercayaan satu sama lain.
Tidak semua peserta memiliki pengalaman menari. Namun, keberanian untuk belajar dan kemauan untuk tampil bersama mampu mengatasi berbagai keterbatasan. Dari proses itulah tumbuh rasa percaya diri, kedekatan antarangggota, serta kesadaran bahwa sesuatu yang tampak sulit dapat diselesaikan melalui kerja sama.
Enam puluh ibu dengan latar belakang, usia, dan kesibukan yang beragam akhirnya dapat bergerak dalam satu irama. Mereka menghadirkan gambaran sederhana mengenai kekuatan koperasi: pribadi-pribadi yang berbeda dipersatukan oleh tujuan bersama.
Menyemarakkan Hari Kemerdekaan
Penampilan tari kreasi dilaksanakan setelah upacara peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang dimulai tepat pukul 07.00.
Upacara dihadiri Syaykh Al-Zaytun, Umi Dra. Farida Al-Widad, S.Sos. M.P., para eksponen Yayasan Pesantren Indonesia, dosen, guru, karyawan, pelajar, mahasiswa, wali santri, anggota KSU Desa Kota Indonesia, serta seluruh sivitas Ma’had Al-Zaytun.
Bertindak sebagai inspektur upacara ialah Dato’ Sir Imam Prawoto, KRSS, MBA, CRBC. Sementara itu, Khalifa Al-Qodri Ramadhon bin Elpiadi, pelajar kelas XI-M-1 asal Serang, Banten, mendapat kepercayaan menjadi komandan upacara.
Sang Merah Putih dikibarkan oleh tiga pelajar, yaitu Nayaka Bagus Rahmatullah bin Joko Supriyono, Hafidz Madyan Gumilang bin Yana, dan Faridatul Ukhuwah binti Supriyadi.
Ketiganya menjadi bagian dari 99 anggota Pasukan Pengibar Bendera Ma’had Al-Zaytun yang terdiri atas 60 banin atau pelajar putra dan 39 banat atau pelajar putri.
Rangkaian pokok upacara berakhir pada pukul 07.23. Suasana khidmat kemudian berganti menjadi semarak melalui berbagai penampilan seni. Salah satunya ialah tari kreasi dari 60 ibu anggota KSU Desa Kota Indonesia.
Jika para pelajar menunjukkan kedisiplinan melalui pasukan pengibar bendera, para ibu memperlihatkan kekompakan melalui gerak tari. Keduanya membawa pesan yang sama: kemerdekaan harus dirayakan dengan partisipasi, kebersamaan, kedisiplinan, dan karya.
Perempuan dan Kemandirian Ekonomi
Keterlibatan para istri sivitas Al-Zaytun dalam KSU Desa Kota Indonesia juga mempunyai makna strategis bagi pembangunan kemandirian ekonomi keluarga.
Koperasi memberi ruang kepada perempuan untuk belajar mengelola usaha, memahami keuangan, mengembangkan kreativitas, serta berpartisipasi dalam kegiatan produktif. Melalui koperasi, potensi yang sebelumnya hanya bergerak secara individual dapat dihimpun menjadi kekuatan bersama.
Perempuan tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga pelaku yang menentukan keberhasilannya. Mereka dapat mengambil bagian dalam kegiatan ekonomi tanpa meninggalkan peran pentingnya di tengah keluarga.
Kemandirian ekonomi perempuan bukan berarti memisahkan mereka dari keluarga. Sebaliknya, kemampuan perempuan dalam mengelola sumber daya dapat memperkuat ketahanan rumah tangga, meningkatkan kesejahteraan anak, dan membangun kehidupan keluarga yang lebih sehat.
Semangat tersebut sejalan dengan nilai remontada from within: bangkit dari kekuatan sendiri. Kebangkitan tidak selalu harus dimulai dengan program yang besar. Ia dapat berawal dari keluarga yang tertata, anggota koperasi yang saling menopang, kebiasaan menabung, usaha kecil yang dikelola dengan baik, serta kemauan untuk terus belajar.
Dari kekuatan-kekuatan kecil yang dihimpun itulah kemandirian dapat tumbuh.
Seni, Kesehatan, dan Kebahagiaan
Tari kreasi juga menunjukkan perhatian terhadap kesehatan fisik dan kebahagiaan para ibu. Gerak tubuh yang dilakukan secara teratur dapat membantu menjaga kebugaran, sedangkan aktivitas bersama memberi ruang untuk berinteraksi, melepaskan kepenatan, dan membangun suasana positif.
Kesehatan perempuan sangat menentukan kesehatan keluarga. Seorang ibu yang sehat secara fisik dan mental akan lebih kuat dalam menjalankan berbagai perannya. Karena itu, kegiatan seni dan olahraga bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian dari upaya membangun kehidupan yang sehat dan manusiawi.
Melalui tari kreasi, para ibu mengekspresikan kegembiraan sekaligus merawat kebersamaan. Mereka menunjukkan bahwa menjaga kesehatan dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan, kreatif, dan mempererat persaudaraan.
Peringatan kemerdekaan pun menjadi lebih hidup. Kemerdekaan tidak hanya hadir melalui pidato dan upacara, tetapi juga melalui tubuh yang sehat, wajah yang bahagia, kreativitas yang tumbuh, dan keberanian untuk tampil.
Perempuan Turut Menjaga Nyala Kemerdekaan
Partisipasi 60 ibu anggota KSU Desa Kota Indonesia memberikan warna tersendiri dalam peringatan HUT Ke-81 Republik Indonesia di Ma’had Al-Zaytun. Mereka menghadirkan wajah kemerdekaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: kemerdekaan untuk belajar, berkarya, sehat, berorganisasi, dan memberikan manfaat kepada sesama.
Penampilan itu juga mengingatkan bahwa perjalanan bangsa selalu melibatkan perempuan. Sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga pembangunan hari ini, perempuan hadir sebagai pejuang, pendidik, penggerak ekonomi, penjaga keluarga, dan perekat kehidupan sosial.
Kiprah tersebut mungkin tidak selalu tercatat dengan huruf besar dalam buku sejarah. Namun, pengaruhnya hidup dalam keluarga yang tangguh, anak-anak yang terdidik, ekonomi rumah tangga yang terjaga, dan masyarakat yang rukun.
Enam puluh ibu di Palagan Agung telah memperlihatkan bahwa mengisi kemerdekaan dapat dilakukan melalui banyak jalan. Ada yang mengabdi di ruang kerja, ada yang mendidik di ruang kelas, ada yang mengelola koperasi, ada yang menguatkan keluarga, dan ada pula yang menyampaikan semangat kebangsaan melalui gerak tari.
Pagi itu, langkah mereka bergerak dalam irama yang sama. Namun, gema yang ditinggalkannya melampaui arena pertunjukan: perempuan harus terus memperoleh ruang untuk belajar, berorganisasi, berkarya, dan mengambil bagian dalam pembangunan.
Sebab, Indonesia tidak akan benar-benar bangkit apabila perempuan hanya ditempatkan sebagai penonton. Kemajuan bangsa memerlukan perempuan yang sehat, cerdas, mandiri, kreatif, dan berdaya.
Dari Palagan Agung Al-Zaytun, 60 ibu anggota KSU Desa Kota Indonesia telah menunjukkan satu pesan sederhana tetapi bermakna: ketika perempuan bergerak bersama, keluarga menguat, ekonomi bertumbuh, dan kemerdekaan menemukan daya hidupnya.
Dirgahayu Ke-81 Republik Indonesia. Perempuan berdaya, keluarga sejahtera, koperasi berjaya, dan Indonesia semakin kuat!