Ketika angka 25–20 menutup set keempat, sebuah pelajaran besar lahir dari lapangan voli Al-Zaytun: kegigihan tidak mengenal usia. Para ibu berusia 50 hingga 65 tahun yang tergabung dalam Srikandi Kodeko berhasil menaklukkan Tim Pelajar Putri Al-Zaytun yang berusia belasan tahun. Dengan kemenangan 3–1, mereka pun berdiri sebagai Juara I bola voli putri.
Kemenangan tersebut diraih dalam pertandingan final pada Rabu, 26 Agustus 2026. Laga itu menjadi bagian dari rangkaian perlombaan memperingati Hari Ulang Tahun Al-Zaytun yang mempertandingkan 10 cabang, yakni sepak bola, bola voli, bola basket, bulu tangkis, tenis meja, tenis lapangan, hoki, seni tari, paduan suara, dan karya ilmiah.
Srikandi Kodeko KSU Desa Kota Indonesia mengikuti dua cabang olahraga, yaitu bola basket dan bola voli. Perjalanan mereka di cabang bola basket memang harus terhenti pada babak awal. Namun, kegagalan tersebut tidak membuat mereka kehilangan semangat. Mereka segera bangkit, memusatkan perhatian pada cabang bola voli, dan terus melaju hingga mencapai pertandingan final.
Di partai puncak, Srikandi Kodeko menghadapi tantangan yang tidak ringan. Tim Pelajar Putri Al-Zaytun dihuni para pemain berusia belasan tahun, sedangkan usia pemain Srikandi Kodeko berkisar antara 50 hingga 65 tahun. Rentang usia itu membuat pertandingan seolah mempertemukan anak dengan ibu, bahkan cucu dengan neneknya.
Namun, perbedaan usia tidak membuat Srikandi Kodeko gentar. Mereka memasuki lapangan dengan keyakinan bahwa usia hanyalah angka, sedangkan semangat, kekompakan, pengalaman, dan kegigihan merupakan kekuatan yang sesungguhnya.
Sejak set pertama, Srikandi Kodeko langsung mengambil kendali pertandingan. Mereka tampil percaya diri dan mampu menjaga permainan tetap terarah. Set pembuka berhasil dimenangkan dengan skor meyakinkan, 25–14.
Pada set kedua, permainan mereka semakin kukuh. Kerja sama antarpemain terbangun dengan baik, sementara komunikasi di lapangan tetap terjaga. Srikandi Kodeko kembali mendominasi dan menutup set tersebut dengan skor telak 25–12.
Tim Pelajar Putri Al-Zaytun belum menyerah. Pada set ketiga, para pelajar berhasil bangkit dan meningkatkan perlawanan. Srikandi Kodeko harus kehilangan set tersebut dengan skor 21–25. Kedudukan berubah menjadi 2–1 dan pertandingan pun memasuki saat yang menentukan.
Kekalahan pada set ketiga menjadi ujian mental bagi Srikandi Kodeko. Jika kehilangan konsentrasi, pertandingan dapat berlanjut ke set kelima. Namun, para Srikandi tidak membiarkan keadaan berbalik. Mereka segera merapatkan barisan, memulihkan kepercayaan diri, dan kembali bermain sebagai satu kesatuan.
Pada set keempat, perjuangan berlangsung semakin sengit. Angka demi angka diperebutkan, tetapi Srikandi Kodeko tetap mampu menjaga ketenangan. Kegigihan mereka akhirnya membuahkan hasil. Set penentuan ditutup dengan skor 25–20, sekaligus memastikan kemenangan 3–1 dan gelar Juara I bola voli putri.
Catatan skor pertandingan itu menjadi bukti perjuangan mereka:
Set I: Kodeko 25–14 Pelajar
Set II: Kodeko 25–12 Pelajar
Set III: Kodeko 21–25 Pelajar
Set IV: Kodeko 25–20 Pelajar
Kemenangan tersebut diraih di bawah komando Ketua Umum KSU Desa Kota Indonesia, Ibu Anis Khoirunnisa, S.Th.I., M.A.P. Adapun gerakan tim di lapangan didukung oleh representatif KSU Desa Kota Indonesia dari unsur Istri Civitas, yaitu Ibu Dewi Asih Nusantari dan Ibu Susianti.
Kepemimpinan, koordinasi, dan kebersamaan telah membentuk Srikandi Kodeko menjadi tim yang tidak mudah menyerah. Para pemain tidak hanya mengandalkan kemampuan fisik, tetapi juga kematangan mental, rasa saling percaya, dan keberanian untuk menghadapi tim yang jauh lebih muda.
Keberhasilan menjadi Juara I membuktikan bahwa semangat tidak selalu berjalan seiring dengan usia. Masa muda memang menawarkan kekuatan, tetapi pengalaman menghadirkan ketenangan. Ketika pengalaman itu dipadukan dengan kerja sama dan kegigihan, batas-batas yang semula tampak sulit dapat ditaklukkan.
Gelar Juara I tersebut bukan sekadar kemenangan sebuah tim dalam pertandingan bola voli. Ia menjadi kemenangan para ibu atas keraguan, rutinitas, dan anggapan bahwa bertambahnya usia harus membatasi ruang untuk berprestasi. Mereka hadir di lapangan bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai pesaing tangguh yang layak menjadi juara.
Hari itu, Srikandi Kodeko tidak sekadar menaklukkan Tim Pelajar Putri Al-Zaytun. Mereka juga menaklukkan batas yang kerap dibangun oleh pikiran manusia sendiri. Melalui kemenangan 3–1, para Srikandi menyampaikan pesan yang kuat: selama semangat tetap menyala, kekompakan terus dijaga, dan kegigihan tidak pernah padam, usia tidak akan mampu menghentikan langkah menuju kemenangan.