KODEKO / Blog

Kembara Peradaban Bestari: Tatkala Koperasi Menjadi Napas Ibadah dan Soko Guru Bangsa

Pendidikan dan ekonomi bukanlah dua kutub yang terpisah, melainkan dua sayap dari satu burung yang sama bernama peradaban. Ketika sistem pendidikan mampu menghidupi, dan roda ekonomi bergerak untuk mencerdaskan, di sanalah kesejahteraan sejati akan lahir.

Oleh Dr. Ali Aminulloh, S.Ag., M.Pd.I., M.E. | 24 May 2026, 19:33 | 5 menit baca | Diperbarui 25 May 2026, 08:00
Kembara Peradaban Bestari: Tatkala Koperasi Menjadi Napas Ibadah dan Soko Guru Bangsa
KODEKO Editorial

Oleh: Ali Aminulloh

INDRAMAYU – Pendidikan dan ekonomi bukanlah dua kutub yang terpisah, melainkan dua sayap dari satu burung yang sama bernama peradaban. Ketika sistem pendidikan mampu menghidupi, dan roda ekonomi bergerak untuk mencerdaskan, di sanalah kesejahteraan sejati akan lahir. Potret integrasi visioner inilah yang menjadi magnet bagi sembilan belas Rijal dan tujuh belas Nisa dari Koperasi Serba Usaha (KSU) Desa Kota Indonesia saat menggelar kunjungan pembinaan bertajuk "Kembara Peradaban Bestari" pada 21 hingga 24 Mei 2026 di Ma'had Al-Zaytun.

Kunjungan bernilai strategis ini dibuka secara resmi melalui pemaparan awal oleh Ahmad Ruzizzan Maphilindo. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa perjalanan ini merupakan momentum mendalam untuk melihat langsung perkembangan Al-Zaytun dalam mengejawantahkan gagasan revolusi pendidikan yang revolusioner. Di kampus ini, pendidikan dipandang sebagai kehidupan itu sendiri. Peradaban dibangun di atas sistem masyarakat yang bersatu padu, patuh terhadap sistem atau Aslam, serta mengintegrasikan ajaran Ilahi dengan kearifan lokal. Melalui sarana strategis yang berkelanjutan, Al-Zaytun berhasil menggerakkan program ekonomi hijau (green economy) dan ekonomi biru (blue economy) sebagai urat nadi harian yang menyatu erat dengan masyarakat demi mendidik dan mencerdaskan bangsa.

Suasana ruang pertemuan semakin menghangat saat Dr. Ali Aminulloh, S.Ag., M.Pd.I., ME. melanjutkan sesi membedah fenomena tersebut. Setelah membuka penjelasannya dengan bait-bait pantun yang jenaka namun sarat makna, ia mengajak peserta melihat peta dunia, khususnya fenomena ketangguhan Iran di pentas global. Menurutnya, ketika ajaran Ilahi dilaksanakan secara konsisten, maka akan terbangun kemandirian yang kokoh. Bangsa tersebut pada akhirnya mampu menguasai berbagai teknologi dan ekonomi secara mandiri, sekaligus membangun budaya masyarakat yang terpimpin.

Dr. Ali kemudian menarik benang merah ke dalam konteks ekonomi Islam dan dunia. Perekonomian yang dibangun oleh Rasulullah SAW sejatinya adalah ekonomi syirkah ta’awuniyah yang dalam bahasa modern kita kenal sebagai koperasi. Menengok sejarah global, negara-negara maju seperti Skotlandia, Prancis, Inggris, dan Jepang juga mengawali kejayaan ekonomi mereka dari gerakan koperasi. Dalam konteks tanah air, koperasi adalah Soko Guru perekonomian Indonesia yang termaktub tegas dalam UUD 1945. Al-Zaytun kemudian mengadopsi prinsip ini secara radikal melalui moto pendidikan ekonomi dan ekonomi pendidikan, dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Lembaga ini didirikan pada tanggal cantik 12-12-2012, sebuah momentum yang dimaknai bukan sebagai ramalan kiamat, melainkan simbol kebangkitan total pendidikan dan ekonomi Indonesia.

Melanjutkan estafet pemikiran tersebut, Syaefudin, S.Ip, M.Pd. membedah praktik berkoperasi di KSU Desa Kota Indonesia dari kacamata teologis sebagai sebuah bentuk ibadah. Moto Al-Zaytun untuk mendidik dan membangun semata-mata untuk beribadah diwujudkan secara nyata. Merujuk pada Al-Qur'an Surat Quraisy ayat tiga dan empat, perintah ibadah diturunkan bersamaan dengan mandat untuk menghilangkan kelaparan dan menjaga stabilitas keamanan. Wujud nyata dari perintah ekonomi ini adalah pembangunan ekonomi yang selaras dengan alam melalui ekonomi hijau dan ekonomi biru demi mewujudkan kesejahteraan bersama.

Secura organisasi, kepatuhan dalam berkoperasi juga mencerminkan ketaatan struktural yang diperintahkan dalam Al-Qur'an Surat An-Nisa ayat 59 mengenai perintah taat kepada Allah, Rasul, dan Ulil Amri, sehingga beribadah dilakukan secara rapi melalui struktur. Landasan spiritual yang kokoh ini, termasuk ayat-ayat mengenai penciptaan manusia, bumi, dan totalitas dalam beragama, melahirkan visi KSU yang mulia. KSU berkomitmen menjadi pusat kegiatan ekonomi kerakyatan untuk mengembangkan budaya wirausaha dan kemandirian menuju masyarakat yang sehat, cerdas, dan manusiawi. Dalam misi dagangnya, anggota dipandang sebagai pemilik sekaligus pengguna koperasi, sehingga koperasi menjadi tempat yang nyata untuk beribadah, lengkap dengan pemahaman hak dan kewajiban yang berimbang.

Nyatanya, konsep spiritual ini berdampak sangat riil pada kesejahteraan finansial anggota. Para karyawan yang awalnya tidak memiliki tabungan, kini rata-rata telah mengantongi tabungan sebesar tiga puluh juta rupiah setelah aktif berkoperasi. Dari dana yang terhimpun tersebut, para anggota kini bisa mengakses berbagai fasilitas krusial seperti pinjaman pendidikan, pinjaman modal usaha, renovasi rumah tinggal, hingga pembiayaan untuk resepsi pernikahan.

Bagaimana mesin ekonomi ini bekerja secara teknis kemudian dikupas tuntas oleh Dr. Ir. Bambang Triyoga, M.T. Mengusung prinsip klasik dari kita, oleh kita, dan untuk anggota, permodalan koperasi ini ditopang sepenuhnya secara mandiri oleh anggotanya. Modal internal yang kuat ini dihimpun melalui berbagai instrumen seperti simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan masa depan, donasi, hingga simpanan progresif. Seluruh dana yang terkumpul kemudian dikelola menjadi bahan bakar untuk menjalankan berbagai unit usaha dan sepuluh program unggulan koperasi.

Saat ini, KSU telah menggerakkan roda bisnisnya pada sektor riil perdagangan, mulai dari Perdagangan Mulbako yang menyediakan sembako, hingga jaringan ritel Toko Kodeko yang kini telah mengepakkan sayap di tiga titik strategis, yaitu pusat, Pondok Cabe, dan Galaksi. Koperasi juga mengoperasikan Toko Material untuk memenuhi hajat pembangunan Lembaga Kemaslahatan Masyarakat serta renovasi rumah anggota, yang didukung penuh oleh Unit Simpan Pinjam. Semua usaha ini pada akhirnya kembali untuk anggota, di mana koperasi berkomitmen mengembalikan lima puluh persen dari Laba Hasil Usaha langsung kepada anggota dalam bentuk dividen.

Kembara Peradaban Bestari selama empat hari di Al-Zaytun akhirnya usai. Namun, bagi tiga puluh enam anggota KSU Desa Kota Indonesia yang kembali ke daerah masing-masing, perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai. Mereka pulang tidak hanya membawa catatan, melainkan sebuah keyakinan baru bahwa dengan melaksanakan ajaran Ilahi secara total ke dalam sistem koperasi, kesejahteraan bersama dan kemandirian bangsa bukan lagi sekadar impian, melainkan takdir yang sedang mereka wujudkan bersama.